cHUuliMtX5L48ROf_w0N5tS7e-c
.

Untuk Program al-Qur'an Live online saat ini hanya melayani dalam bahasa Indonesia dan Melayu

Aqidah

Lihat artikel lain »

Berita Qur'an

Lihat artikel lain »

Tips Menghafal al-Qur'an

Lihat artikel lain »

Do'a dari al-Qur'an







Lihat Doa lain »

Artikel Terbaru

Ibu Hamil Harus Perbanyak “Vitamin Qur’an”

Written By Majelis Qur'an on Jumat, 24 Mei 2013 | 16.53

Hidayatullah.comJika ingin menjadi seorang Muslim yang tangguh namun tetap memiliki jiwa tauhid yang benar dan lurus maka pembentukannya harus dimulai sejak anak dalam kandungan.Namun seringkali orangtua baru memulainya saat buah hati sudah lahir.
“Padahal golden age (masa keemasan) itu dimulai sejak ia dalam rahim ibunya pada masa awal kehamilanpun ia sudah mampu meresepon setiap ransangan,” ungkap dr.H.Hanny Ronosulistyo,SP.OG (K),MM, kepada hidayatullah.com di Bandung,Kamis (23/05/2013)
Lebih lanjut Hanny yang juga Direktur RS Al Ihsan Bandung tersebut menjelaskan bahwa jauh sebelum ilmu psikologi dan dunia kedokteran berbicara soal pembentukan karakter anak,sebagai umat Islam Quran telah mengajarkan bagaimana membangun jiwa tangguh tersebut dimulai.Ia juga menambahkan bahwa pendidikan yang paling sempurna itu ialah pendidikan di dalam rahim.
“Tempat yang suci dan mulia (rahim) yang berisi jiwa yang suci dan mulia pula maka pendidikan yang suci dan mulia (Quran) pula yang harus diberikan.Hanya ibu yang mapan secara kejiwaanlah yang mampu mendidik dan melahirkan generasi yang  tangguh itu,” imbuhnya.
Hanny yang mengaku sudah puluhan tahun menjadi dokter kandungan dan konselor bagi pasangan suami istri tersebut  senantiasa menganjurkan agar ibu selalu mengajarkan kebaikan dan keshalehan sejak dalam kandungan.Kelembutan dan kesantunan ibu dalam bertutur mampu menstimulus janin menjadi pribadi yang lembut namun berjiwa periang.
Ia sendiri berpendapat bahwa kualitas anak seperti ketangguhan hidup dipengaruhi dari ibunya. Sementara  kemampuan  meraih cita seperti sukses berkarier,menjadi orang kaya itu dipengaruhi dari sang bapak.Maka dari itu pasangan suami istri harus saling memberi dukungan dan saling menguatkan selama menjalani masa sembilan bulan yang menakjubkan tersebut.
Meski urusan kehamilan adalah wewenang dan kuasa Allah namun menurut Hanny sebagai manusia diwajibkan untuk merencanakan serta mempersiapkannya secara matang.Urgensi perencanaan kehamilan sangat berpengaruh dalam proses kehamilan dalam kaitannya dengan pendidikan anak dalam kandungan.

“Biasanya kehamilan yang tidak dikehendaki seringkali terjadi saling menyalahkan,ujungnya anak yang disalahkan.Dalam menjalani proses kehamilanpun sering kali diikuti rasa “kurang ikhlas” menerima karunia tersebut. Hal ini juga berpengaruruh dalam terbentuknya karakter anak nantinya,”ujarnya.

Prasangka positif
Sementara metode yang  baik menurutnya adalah seorang ibu agar senantiasa  berkata dan selalu berprasangka yang postif apapun yang tengah dialami. Meski Hanny sendiri  tidak melarang ibu hamil memperdengarkan musik kepada sang janin,namun ia menyarankan metode memperdengarkan al-Quran adalah cara terbaik menstimulus anak yang sehat secara lahir dan batin sejak dini.

“Selama masa kehamilan tolong sang ibu mengkonsumsi “vitamin Q”  (baca al-Quran) yang banyak. Dijamin tidak ada istilah overdosis, efeknya sangat baik bagi ibu maupun sang janin,”pungkasnya memberi saran.*
Rep: Ngadiman Djojonegoro
Red: Cholis Akbar

Menag: Sejarah Membuktikan Al Quran Terpelihara Kesahihannya

Written By Majelis Qur'an on Rabu, 22 Mei 2013 | 05.58

Hidayatullah.com--Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, persoalan kitab suci bukan persoalan teks. Sejarah membuktikan Al Quran adalah kitab suci yang terpelihara kesahihan dan keaslian teks-teksnya. Jaminan keterpeliharaannya dinyatakan sendiri oleh Allah.

Hal itu dikatakan Menteri Agama ketika membuka Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ulama Al Quran di Serang, Banten, Selasa (21/05/2013) malam. Mukernas bertema "Al Quran di Era Global: Antara Teks dan Realitas" ini akan berlangsung sampai 24 Mei.

Kegiatan itu diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMA) Balitbang Diklat Kementerian Agama yang dikepalai Muchlis M Hanafi.

Menag mengatakan, pentasihan Al Quran hendaknya tidak terbatas pada penelitian tanda baca, huruf, kata, dan seterusnya. Ulama pun harus memperhatikan originalitas. Tertukarnya halaman jangan sampai terjadi.

Soal keaslian atau originalitas ini, ia mengaku, sering menjelaskan ke berbagai pihak menghadapi pihak luar.

Lantas Menag Suryadharma Ali bercerita tentang pengalamannya pergi ke Thailand. Di Negeri Gajah itu ia didampingi bhiksu berfoto dengan latarbelakang patung Buddha. Lantas ia bertanya kepada pendampingnya, jika patung itu diberi kain agar terlindungi dari panas, apakah umat Buddha setuju. Dijawab oleh bhiksu, tidak. Menag pun menjawab, setuju.

Pada kesempatan lain, Menag bertanya, jika bendera merah putih ditambahi warnanya dengan hijau, apakah itu bisa disebut sebagai bendera bangsa Indonesia. Tentu, jawabnya tidak. Itu bukan lagi bendera Indonesia karena tidak merah putih lagi.

Jika Al Quran yang disusun dengan baik, kemudian diubah-ubah lagi, seperti yang dilakukan kelompok Ahmadiyah, tentu keasliannya hilang. Maka, kitab itu bukan lagi dapat disebut Al Quran. Padahal, Al Quran adalah kitab suci bagi umat Islam. "Jelas saja dapat menimbulkan kemarahan," katanya.

Untuk itu, ia minta apa sudah dimuliakan oleh agama, umat hendaknya harus menghormati apa adanya. Al Quran jelas tak bisa diubah-ubah. Karena itu, ia tak sepaham dengan aliran kebebasan mutlak, bahwa segala sesuatu dapat dilakukan semaunya. Dalam bernegaranya saja ada aturan dan pemerintah yang mengatur.

"Di dunia ini tidak ada kebebasan mutlak," jelas Suryadharma Ali, seperti diberitakan Antara.*

2000 Santri TPQ se Solo Beri Dukungan Rakyat Suriah dan Palestina

Written By Majelis Qur'an on Selasa, 21 Mei 2013 | 04.55

Hari ari Ahad (28/04/2013) ribuan santri TPQ di Jantung Kota Solo Raya, tepatnya di Jalan Slamet Riyadi depan Gedung Pengadilan Solo dalam aksi Solidaritas “1000 Santri TPQ Peduli Suriah – Palestina”. Acara bertema “Santri TPQ Love Muslim Se Dunia” ini diikuti 2000 santri  dari 100 TPQ yang ada di Solo Raya.
Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Koordinasi Gerakan (LKG TPQ Solo Raya), Himpunan Komunitas TPQ Solo Raya, Farohis, Sahabat Suriah – Palestina ini mendatangkan nara sumber  dari Suriah, Syeih Muhammad AL-Khotot, Kak Bimo (Pendongeng Nasional), Ustad Muhammad Dahlan (MUI Solo) dan Ustad Warsito Adnan (perwakilan Muslim Solo)
Acara di buka jam  07.00 WIB oleh Abdul Wahab, Ketua Himpunan Komunitas TPQ Solo raya – LKG TPQ Solo Raya dilanjutkan orasi dari para nara sumber secara bergiliran
Gilirannya Kak Bimo, beliau tidak orasi seperti nara sumber lain, di hadapan 2000 santri ia bercerita tentang pendzoliman musuh Islam yang kini menghantui  anak-anak Suriah dan Palestina.
Tepat pukul 08.30 WIB, 2000 santri TPQ melakukan pawai dari sriwedari menuju ke Gladak dan dilanjutkan dengan teatrikal dari Rohis Solo tenteng Penindasan Umat Islam. Di tengah – tengah acara aksi solidaritas 1000 santri TPQ, panitia menggalang dana dari 2000 santri dan dari warga Solo yang sedang berada di sekitar Jalan Slamet Riyadi.
“Dengan acara ini kami berharap memberikan ilmu kepada santri TPQ tentang Kepedulian sesama saudara Muslim di seluruh dunia. Karena agama Islam mengajarkan akan hal tersebut. Mengajarkan kepedulian sesama Muslim dengan materi dan dukungan maupun doa,” ujar seorang panitia.*/Kiriman Andi Jauhari

Sumber

Wakil Rektor III Unhas Resmikan Hasanuddin Qur'an Community

Written By Majelis Qur'an on Senin, 20 Mei 2013 | 08.40

Hidayatullah.com--Bermula dari diskusi singkat, akhirnya Hasanuddin Qur’an Community (Komunitas Penghafal Al-Qur'an Universitas Hasanuddin) berhasil diluncurkan. Wakil Rektor III Unhas, Ir. Nasaruddin Salam, MT meresmikannya pada Ahad, 9 Rajab 1434 H atau bertepatan dengan 19 Mei 2013 M, bertempat di gedung PKP (Pusat Kajian dan Penelitian) Universitas Hasanuddin dan disaksikan sekitar 170 hadirin.
Dalam sambutannya, anak ke-12 dari 12 bersaudara ini mengemukakan, bahwa dewasa ini banyak perusahaan-perusahaan yang merekrut sarjana-sarjana bukan karena kemampuan akademiknya, tetapi dari integritas dan karakternya. Sebab menurut mereka, nilai akademik yang berhubungan dengan keterampilan memanfaatkan teknologi dapat dengan cepat dipelajari. Seorang sarjana teknik mesin misalnya, cukup dilatih 3 bulan maka ia sudah dapat bekerja dengan baik. Namun untuk membentuk integritas dan karakter waktu 2 tahun tidaklah cukup.
Nasaruddin mengaku punya pengalaman unik sejak kecil terkait al-Qur'an.
“Bapak saya hanya lulus kelas 3 SR (Sekolah Rakyat). Kesehariannya dengan al-Qur'an. Beliau menjadi imam Masjid Raya kab. Bulukumba selama 40 tahun,” tuturnya bersemangat.
“Suatu waktu Bapak saya mengunjungi saya di Makassar. Saat itu saya masih S1 teknik. Beliau mengamati buku-buku saya di rak. Semua referensi berbahasa Inggris, tetapi tiba-tiba Bapak saya berkata, masih ada yang kurang. Saya pun heran. Apakah Bapak saya yang hanya tamat kelas 3 SR bisa membaca buku-buku berbahasa Inggris?” tanyanya retoris.
Wakil Rektor III yang sudah menjabat 2 periode ini melanjutkan, ternyata yang kurang adalah al-Qur'an. Bulan berikutnya sang bapak datang dan membawa al-Qur'an lalu menempatkannya pada posisi paling atas di tumpukan bukunya.
Dalam sambutan ini berkali-kali beliau menekankan pentingnya menghafal al-Qur'an. Di antaranya, agar dapat menjiwai seseorang menjadi lebih baik.
“Jika dalam hati manusia dipenuhi al-Qur'an, maka yang keluar pun al-Qur'an. Sama dengan komputer, jika diisi dengan suatu memori, maka yang keluar pun isi memori itu,” paparnya.

Jalan Menuju Surga
Bukan sekedar peresmian komunitas, launching Hasanuddin Qur'an Community (HQC) dirangkaikan dengan seminar al-Qur'an yang menghadirkan 2 pemateri: Ustadz Syaibani Mujiono dengan materi Al-Qur'an Jalan Menuju Surga dan Ustadz Marli Abdul Hamid, S.P.di (Al-Hafidz.) dengan materi Kemudahan dalam Menghafal al-Qur'an.
Menurut Ustadz Syaibani, pada hari kiamat nanti para penghafal akan menempati posisi di surga sesuai ayat terakhir yang ia hafalkan. Berdasarkan hadist shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
“Bacalah sebagaimana kamu telah membacanya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca.”
Ustadz Marli memberikan tips-tips mudah dalam menghafal al-Qur'an. Antara lain seorang penghafal harus menanamkan kecintaan terhadap al-Qur'an dan aktifitas menghafal. Memulai menghafal dan senantiasa mengulang-ulang hafalan. Dan tentunya menjauhi maksiat.
Sebagaimana Imam Asy-Syafi'i rahimahullah yang mengadukan buruknya hafalan beliau kepada sang guru, Imam Waki'. Maka beliau dinasehati oleh sang Imam untuk meninggalkan maksiat. Sampai-sampai Imam Syafi'i mengabadikan nasehat guru beliau dalam syair:
Kuadukan kepada Waki' perihal buruknya hafalanku
Maka dia menunjukiku untuk menjauhi maksiat
dan beliau mengabarkan bahwa ilmu itu cahaya
dan cahaya Allah tidak akan diberikan pada orang yang bermaksiat.
Launching HQC dan seminar Al-Qur'an ditutup dengan pemberian hadiah bagi 20 peserta tercepat datang.*/kiriman Wahyudi Husain

al-Qur'an Itu Indah

Lihat artikel lain »

Ilmu Seputar al-Qur'an

Lihat artikel lain »